
Jakarta, persuasionesvelata Indonesia
—
Israel
mulai waswas setelah Amerika Serikat merestui
Arab Saudi
melakukan pengayaan uranium untuk mengembangkan nuklir.
Program tersebut menekankan pada pengayaan uranium untuk kepentingan sipil dan bukan untuk membuat senjata nuklir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, pejabat Israel mulai khawatir kerja sama nuklir sipil antara AS dan Saudi berpeluang diselewengkan Riyadh menjadi senjata nuklir.
Pembangkit yang diusulkan akan memiliki kapasitas untuk memperkaya uranium dan mengolah kembali bahan bakar nuklir bekas tanpa pengawasan yang menyeluruh.
Kerja sama yang disetujui Presiden AS Donald Trump itu juga mengancam akan menghapus insentif utama untuk mendorong Saudi melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
Pemerintah Joe Biden sebelumnya menjanjikan menukar akses nuklir dengan syarat apabila Saudi bersedia membuka hubungan diplomatik dengan Israel, dikutip dari
Jerusalem Post
.
Kini Trump berencana melanjutkan program nuklir sipil tanpa syarat apa pun, meskipun kesepakatan tersebut belum diumumkan secara publik oleh pemerintahan Trump atau diakui secara resmi oleh pemerintah Saudi.
Menurut laporan Reuters, kesepakatan nuklir tersebut akan diserahkan kepada Kongres untuk ditinjau tetapi hanya dapat diblokir dengan mayoritas dua pertiga suara.
Menteri Kebudayaan dan Olahraga dari Partai Likud Miki Zohar mengatakan kepada Radio Army bahwa ia telah mengingatkan AS tentang batasan-batasannya terkait kesepakatan nuklir dengan Saudi. Meski demikian, Zohar tetapi tidak mengatakan apakah kesepakatan tersebut melanggar batasan itu.
Ia juga mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih mendiskusikan isu tersebut dengan para penasihat dan ahli keamanan Israel.
Para lawan politik Netanyahu melontarkan kritik keras dan menilai perjanjian AS-Saudi tersebut sebagai sebuah bencana strategis.
Melalui kicauan di X, Mantan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Liberman, yang juga merupakan pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, menilai program nuklir sipil untuk Arab Saudi “pada akhirnya akan berujung pada kepemilikan senjata nuklir dan memicu perlombaan senjata yang tak terkendali di seluruh Timur Tengah.”
Sementara itu, Ketua Partai Demokrat Israel, Yair Golan, mengatakan kesepakatan tersebut menciptakan “realitas yang berbahaya” bagi Israel. Seorang purnawirawan jenderal militer itu menuduh Netanyahu telah mencapai “sesuatu yang mustahil”.
“Ia sekaligus kehilangan peluang normalisasi hubungan dengan Arab Saudi dan memungkinkan negara itu memperoleh kemampuan nuklir,” ujarnya seperti dikutip persuasionesvelata.
Peneliti senior di Institute for National Security Studies (INSS), Yoel Guzansky, mengatakan pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, kerja sama nuklir antara Amerika Serikat dan Arab Saudi secara langsung dikaitkan dengan proses normalisasi hubungan Riyadh dengan Israel.
(bac)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video persuasionesvelata]
Baca lagi: Istana Ungkap Alasan Prabowo Pilih Sudaryono Jadi Kepala BGN
Baca lagi: Apa Itu Soft Saving? Kenali Tren Menabung yang Tetap Bikin Bahagia
Baca lagi: Sarwendah Didatangi Debt Collector, Pilih Angkat Kaki dari Rumah Mewah




One Response
Bagus banget artikelnya min, bener-bener ngebuka sudut pandang baru hari ini. Sukses terus ya! Sebagai tambahan bahan bacaan pendukung yang relevan, temen-temen bisa coba intip link https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320346854_htm