
Jakarta, persuasionesvelata Indonesia
—
Perdana Menteri Israel
Benjamin Netanyahu
menyamakan warga di Jalur Gaza
Palestina
dengan Korea Utara karena penduduknya tak bisa meninggalkan wilayah tersebut.
Sejak agresi Israel ke Palestina pada 2023, pasukanĀ Israel menetapkan blokade total jalur darat maupun laut sehingga mobilitas tak hanya bagi warga yang ingin keluar Gaza tapi juga bahan baku, makanan, obat-obatan, hingga medis sangat sulit. Mereka bahkan kesulitan mendapat bantuan kemanusiaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Netanyahu lalu menghubungkan situasi itu dengan penolakan negara ketiga untuk menerima pengungsi Gaza.
“Orang-orang sama sekali tak boleh meninggalkan Gaza. Negara-negara mengatakan,’Tidak, kami tidak akan menerima mereka, karena itu membantu Israel’,” kata Netanyahu dalam salah satu podcast berbahasa Ibrani, dikutip
Al Jazeera,
Senin (3/8).
Dia lalu berujar, “Saya lalu bertanya: Bagaimana dengan membantu warga Gaza? Mengapa mereka tidak memiliki hak dasar yang sama seperti miliaran orang di seluruh dunia, yaitu kebebasan untuk bergerak”
Perpindahan warga Gaza sempat menjadi perbincangan saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump sesumbar ingin membangun Riviera Timur Tengah, semacam kawasan mewah di wilayah tersebut.
Usulan itu mengharuskan seluruh warga Gaza dipindahkan dari tanah mereka dan rencananya akan ditampung di Yordania dan Mesir.
Komunitas internasional ramai-ramai mengecam usulan tersebut. Mereka menilai gagasan itu sama saja dengan ethnic cleansing atau pembersihan etnis dan mendukung tujuan Israel.
Mereka juga menganggap usulan itu bukan solusi, justru yang harus ditekankan adalah perdamaian yang abadi dan saling menghormati kedaulatan masing-masing.
Jika tak ada agresi Israel, warga Gaza akan tetap tinggal di rumahnya dan menjalani kehidupan sebagaimana warga negara lain.
Lalu, berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, warga Gaza dilarang diusir secara paksa.
“Tidak seorang pun akan dipaksa meninggalkan Gaza, dan mereka yang ingin pergi akan bebas melakukannya dan bebas untuk kembali,” demikian salah satu poin dalam perjanjian gencatan.
“Kami akan mendorong orang-orang untuk tetap tinggal dan menawarkan mereka kesempatan untuk membangun Gaza yang lebih baik,” imbuh poin tersebut.
(isa/rds)
[Gambas:Video persuasionesvelata]
Baca lagi: Dua Mumi Alami di Chili Simpan Jejak Virus Cacar Kuno
Baca lagi: Perjalanan Panjang Land Cruiser: Evolusi dan Karakter Kuat Jadi Kunci
Baca lagi: Suhu Korsel 42 Derajat Celsius, Warga Diimbau Kurangi Kegiatan Outdoor



